Selasa, 08 Mei 2012

Puisi "Salju Kedamaian"


percikan api ini bukan kembang api
bukan hal yang harus disenangi
bukan hal yang indah yang menghiasi langit
bukan pelengkap bulan dan bintang lagi

sudahlah sayang..
tak usah kau hiraukan celoteh burung hantu
jika tak ingin terus dihantui
suatu saat kau akan tahui
apa yang sekarang kau risaui

bara api seketika padam
tetesan embun sejuk menyelimuti
terimakasih salju batinku
tenang damai kurasa kini di hati :-*
(arf)

Selasa, 24 April 2012

Puisi "Aku Tunggu Waktu Itu"


menghirup nafas panjang
lalu kuhembuskan bersama jutaan titik embun
embun panas
panasnya hati
ya.. disini


ini kita,
dan hanya waktu yang bermain
waktu yang kan memanggil
waktu yang kan menjemput
untuk kita pergi bersama
jangan menangis
bertahanlah.. bersabarlah..


kuhapus nada syahdu yang jatuh
jatuh bersama emosi dan kegeraman
dengan senyum kuucap
aku tunggu waktu itu :')

Minggu, 22 April 2012

WOW ! JOKOTOLE VS AGUS WEDI

JOKO TOLE Vs AGUS WEDI

Pada zaman dahulu kala, yaitu sekitar abad 13, di Madura, tepatnya di Sumenep, ada seorang raja yang bernama Pangeran Mandaraga. Disebut Mandaraga karena tempat tinggalnya di Mandaraga. Pangeran Mandaraga mempunyai dua orang putera, yang pertama adalah Pangeran Bukabu, dan yang kedua adalah Pa­ngeran Baragung. Disebut Bukabu karena tempat tinggalnya di Bukabu, dan Baragung karena tempat tinggalnya di Baragung.
Ketika Raja Mandaraga wafat, jenazahnya dimakam­kan di tempat itu juga (sekarang Mandaraga menjadi sebuah kampung di Desa Keles Kecamatan Ambunten Kabupaten Sumenep). Di sebelah timur laut sumber Mandaraga adalah makam Pangeran Mandaraga, yang oleh orang-orang desa itu disebut “Asta Patapan”, (makam pertapaan), karena pada zaman dahulu banyak orang yang datang bertapa di tempat yang dikera­matkan itu.
Tak banyak diceritakan mengenai kehidupan Raja Mandaraga termasuk kedua puteranya, yaitu Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung. Yang diceritakan hanya Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung meninggal dunia. Jenazah Pangeran Bukabu dimakamkan di Bukabu (sekarang Bukabu menjadi sebuah desa di Kecamatan Ambunten Kabupaten Sumenep). Sedangkan Pangeran Baragung dimakamkan di Baragung (sekarang Baragung menjadi sebuah desa di Kecamatan Guluk-Guluk Kabu­paten Sumenep). Pangeran Bukabu banyak menurunkan Para Kyai dan alim ulama di Madura umumnya dan di Sumenep pada khususnya.
Pangeran Baragung meningggalkan seorang puteri yang bernama Endhang Kilengan. Ia bersuamikan Bramakanda. Dan, dalam perkawinannya itu, mereka dikarunia seorang putera yang bernama Wagungrukyat. Setelah Wagungrukyat menginjak dewasa, ia menjadi raja di Sumenep, dengan julukan Pangeran Saccadining­rat. Keratonnya terletak di Desa Banasare (sekarang Ba­nasare termasuk Kecamatan Rubaru).
Pangeran Saccadiningrat kawin dengan saudara sepupu ibunya, yaitu Dewi Sarini. Tidak lama mereka dikaruniai seorang puteri bernama Saini, dengan julukan Raden Ayu Potre Koneng. Kulitnya mengkilat serta me­miliki wajah yang sangat cantik.
Setelah Raden Ayu Potre Koneng menginjak remaja, bapak ibunya menghimbau agar ia kawin. Namun, ia menolak karena tidak mengetahui sama sekali tentang masalah perkawinan. la lebih senang berbakti kepada Allah daripada kawin. Karma itu pada suatu hari, ia berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke goa Payudan. Ia akan bertapa di tempat tersebut. Setelah direstui oleh ibu bapaknya, lalu ia berangkat bersama tiga orang pengiringnya.
Dalam menjalani masa pertapaannya itu, Raden Ayu Potre Koneng tidak makan, tidak minum, dan tidak Pula tidur. Setelah sampai tujuh malam, ketika itu malam tanggal empat belas, ia tertidur. Dalam tidurnya itu, ia bermimpi didatangi seorang laki-laki yang roman mukanya sangat tampan. Laki-laki tersebut mengaku bernama Adipoday. Ketika itu Raden Ayu Potre Koneng terkejut, lalu bangun, “Oh, aku bermimpi,” katanya. Setelah pagi hari ia pulang ke Sumenep.
Alkisah, ada dua orang pertapa bersaudara. Mereka adalah putera-putera Panembahan Balinge yang bergelar Ario Pulangjiwo. Yang seorang bernama Adipoday, dan yang satu lagi bernama Adirasa. Adipoday bertapa di gunung Gegger, dan Adirasa di ujung gelagah.
Dari hari ke hari, bulan berganti bulan, kini perut Raden Ayu Potre Koneng semakin besar. Ia hamil. Dan kehamilannya itu, membuat bapak ibunya marah, hingga pada suatu hari ia akan dihukum mati. Bapak ibunya tidak kuat menahan rasa malu karma puteri satu-satunya hamil diluar nikah. Bapak ibunya akan merasa malu andaikata peristiwa ini didengar oleh raja-raja yang lain. Di samping itu, akan mencemarkan nama baik kerajaan clan keluarga besar keraton. Itulah pandangan kedua orang tua Raden Ayu Potre Koneng mengenai kehamilan puterinya.
Apa yang terjadi setelah Pangeran Saccadiningrat memberi putusan hukuman mati terhadap puterinya? Berbagai upaya dilakukan oleh permaisuri, para menteri dan Patih yang menaruh belas kasihan kepada Raden Ayu Potre Koneng. Mereka mengadakan perundingan, mencarikan jalan untuk memperoleh keringanan cara un­tuk melunakkan hati baginda raja. Akhirnya, baginda raja berkenan merubah keputusannya, dengan syarat supaya puterinya tidak sampai terlihat beliau.
Dengan batalnya keputusan hukuman mati itu, Raden Ayu Potre Koneng disembunyikan agar tidak terlihat ba­ginda raja.
Begitulah, ketika kandungannya berusia sembilan bulan, maka pada suatu malam bertepatan dengan tanggal empat belas, Raden Ayu Potre Koneng melahirkan se­orang bayi laki-laki. Sang puteri melahirkan tanpa mengucurkan darah setetes pun, dan tanpa mengeluarkan ari-ari pula. Sang bayi tampak elok, bersih, dan berseri­seri, mengingatkan sang puteri kepada orang yang pernah datang dalam mimpinya.
Kelahiran bayi mungil itu membuat sang puteri me rasa takut dan malu pada bapak ibunya. Ta takut disangka berbuat yang tidak baik. Karena itu, Raden Ayu Potre Koneng memanggil dayangnya.
“Mbok! Sebenarnya aku tidak tega menyingkirkan bayi ini. Tapi apes boleh buat, inilah satu-satunya cares terbaik,” kata sang puteri memelas.
“Maksud Tuan puteri?” tanyanya agak heran.
“Bawalah bayi ini ke tempest yang jauh,” perin­tahnya, tapi ingest yes, Mbok, jangan di letakkan di sarang macan. Aku khawatir dimakan.”
“Segala titah Tuan puteri akan hamba laksanakan demi keselamatan Jeng puteri,” jawab si Mbok.
Dengan belaian kasih sayang, dilepaslah bayi itu dari pangkuan ibundanya. Lalu, diserahkannya kepada Si Mbok. Bayi tersebut dibawanya menuju arah selatan. Sementara pipi sang puteri penuh dengan deraian air mates mengenang nasib puteranya tercinta.
Menjelang matahari terbit, Si Mbok tadi telah sampai ke alas gunung selatan. Bayi yang masih kemerah-merahan itu diletakkan di suatu tempest yang benar-benar terjamin keamanannya. Di bawah pohon yang rindang itulah sang bayi diletakkan, lalu ditutup dengan dedaunan. Selesai melaksanakan tugasnya, inang pengasuhnya itu pulang kembali ke keraton.
Beberapa saat kemudian, inang pengasuhnya tiba di keraton. Dan, memberikan laporannya mengenai tugas yang diberikan.
Diceritakan bahwa di daerah lain, yaitu di Desa Pakandangan (sekarang Pakandangan termasuk Kecama­tan Bluto Kabupaten Sumenep), hiduplah seorang laki­laki bernama Empo Kelleng. Dalam kegiatan sehari­harinya, is bekerja sebagai pandai besi. Membuat keris, pisau, dan perkakas pertanian.
Telah sekian tahun lamanya Empo Kelleng hidup berumah tangga, is masih belum dikarunia keturunan. Berbagai usaha yang is lakukan, tapi usahanya itu masih belum membuahkan hasil. Sampai-sampai is pergi ke dukun, tapi tidak berhasil juga.
Di samping sebagai pandai besi, Empo Kelleng juga memelihara kerbau. Tiap pagi binatang piaraannya itu diumbar ke hutan. Dan, bila senja pulang sendiri, lalu masuk ke kandangnya. Begitulah kerbau Empo Kelleng setiap harinya.
Di antara kerbau yang banyak tadi, ada seekor kerbau betina yang berbulu putih mulus serta paling bagus dibandingkan yang lain. Ketika bayi tadi dibuang ke hutan, kerbau putih itu barn selesai menyusui anaknya. Dengan kekuasaan Allah, pada saat bayi diletakkan di hutan, secara diam-diam kerbau putih tadi berlari ke tempat bayi itu, lalu menyusuinya. Di samping menyusui, kerbau putih itu menjaganya agar tidak sampai dimakan binatang buas. Begitulah pekerjaan sehari-harinya, serta setiap pulang mesti selalu teriambat.
Tingkah laku yang aneh dari kerbau putihnya itu, membuat Empo Kelleng curiga. Karena itu, is meneliti setiap kerbaunya pulang dari hutan setelah seharian men­cari makan di tempat tersebut. Sudah berapa hari aku teliti kerbau yang putih ini, pasti datangnya selalu paling akhir dan perutnya kempes. Badannya semakin kurus. barangkali kerbau yang satu ini dipekerjakan oleh orang. Besok akan kubuntuti dari jauh agar aku tahu apa yang menjadi penyebabnya, pikir Empo Kelleng dalam hatinya.
Keesokan harinya ketika matahari baru terbit, kerbau-kerbau itu dikeluarkan dari kandangnya sebagai­mana hari-hari sebelumnya. Empo Kelleng melihat kerbau putih keluar serta berjalan di barisan paling depan. Sedang­kan kerbau-kerbau lainnya ditinggalkan. Lalu Empo Kelleng membuntutinya dari jauh. Sesampainya di hutan, kerbau putih itu terus menuju ke bawah pohon tempat bayi diasingkan.
Setelah Empo Kelleng sampai di bawah pohon, is mendapati seorang bayi laki-laki yang sedang disusui kerbau miliknya. Raut wajahnya sangat tampan dan berseri-seri. Betapa gembiranya hati Empo Kelleng sebab dirinya memang sangat mendambakan ketu­runan.
Demikianlah, maka bayi tadi digendongnya dan di­bawa pulang ke rumahnya. Isterinya sangat senang, begitu suaminya menyerahkan bayi tersebut.
“Anak siapa ini, Kak?” tanya isterinya sambil mene­rima bayi, lalu dipangku dan diusap-usap dahinya.
“Bayi ini kutemukan di hutan tempat kerbau kita mencari makan, ” jawab suaminya dengan perasaan bangga.
“Kasihan ya, Kak. Lalu siapa yang menyusui?” tanyanya lagi.
“Ya, kerbau yang putih itu.” jawab Empo Kelleng.
Nyai Empo yang telah lama mendambakan keha­diran seorang anak, tanpa disangka-sangka akhirnya menggendong bayi juga. Walaupun bayi tersebut tidak dilahirkan oleh Nyai Empo, namun sikapnya bagaikan seorang ibu yang baru melahirkan. Ia minum jamu, susunya dibuat besar supaya keluar air susu.
Nyai Empo ingin sekali menyusui bayinya. Namun, usahanya itu tidak berhasil. karena itu, maka bayi tetap menyusu pada kerbau putih. Dan, memberinya nama “Jokotole”.
Sejak Empo Kelleng mempunyai anak Jokotole, siang ma’am tamu-tamu berdatangan dengan membawa oleh-oleh. Ada yang memberi uang untuk membelikan bajunya. Dan sejak saat itu pula, rezeki keluarga Empo Kelleng semakin bertambah. Dari pemberian orang­orang yang berkunjung ke rumahnya menyebabkan Empo Kelleng semakin kaya.
Lain halnya dengan Raden Ayu Koneng. Ia ber­mimpi lagi untuk yang kedua kalinya. Ia didatangi orang yang pernah datang dalam mimpinya dulu sampai tidur bersama di malam itu. Perstiwa ini terjadi di keraton Sumenep. Dan, ketika bangun, is terkejut. Sebentar duduk, kemudian tengkurap ke bantal. Dalam hatinya sangat gelisah karma peristiwa beberapa tahun yang silam takut terjadi lagi. “Kalau aku hamil lagi, pasti aku akan dihukum mati oleh orang tuaku. Mereka pasti me- nyangka bahwa aku tidak mau dinikahkan sebab mem­punyai pacar maling sakti itu,” kata Raden Ayu Potre Koneng dalam hatinya.
Pada malam itu, is menangis tersedu-sedu, meratapi nasibnya. Mendengar ada orang menangis, lalu inang pengasuhnya bangun.
“Ada apa Tuan Puteri malam-malam begini me­nangis? tanyanya terheran-heran. “Tapi dulu-dulunya bila Tuan puteri bangun tidur, iangsung mengambil air wuduk, terns bersembahyang dan membaca Al-Qur’an hingga matahari terbit.”
“Aku bermimpi lagi, Mbok,” jawab sang puteri. “Mimpi apa Tuan puteri?” tanyanya lagi.
“Laki-laki yang pernah datang dalam mimpiku dulu, kini datang lagi. Ia mengaku bernama Adipoday. Aku takut, Mbok. Yang jelas kalau ketahuan aku hamil, pasti tidak akan mendapat ampunan dari bapakku.”
“Yuan puteri jangan khawatir. Benar macan itu galak, namun sejak zaman kuno hamba belum pernah mendengar berita bahwa macan itu makan anaknya sendiri,” ujar Si Mbok menenangkan Raden Ayu Potre Koneng.
Sang puteri kembali agak tenteram jiwanya, walau­pun masih ada rasa gelisah dalam perasaannya.
Hari bertambah hari, bulan berganti bulan, perut sang puteri semakin besar. Ia hamil untuk yang kedua kalinya.
Bagaimana tanggapan bapak ibunya setelah mengetahui perut puterinya besar?
Biarpun sang puteri berusaha agar bapak ibunya tidak tahu bahwa dirinya hamil, akhirnya ketahuan juga. Pada suatu hari bapak ibunya tahu bahwa perut pu- terinya besar. Namun mereka tidak menanyakan apa­apa, sebab hal itu disangka penyakitnya yang dulu kambuh lagi.
Setelah kehamilan Raden Ayu Potre Koneng genap bulannya, pada waktu tengah malam lahirlah seorang bayi laki-laki. Rant wajahnya tidak berbeda dengan Jokotole. Ia sangat tampan dan berseri-seri.
Demikianlah, bayi yang baru lahir itu hendak di­asingkan ke hutan juga sebagaimana kakaknya dulu. Inang
pengasuhnya secara diam-diam menggendong bayi ter­sebut menuju arah selatan. Sampai di sebuah hutan tempat kakaknya dulu diasingkan, lalu si bayi diletakkan di bawah pohon besar yang menjadi tempat singgah dan tidurnya burung-burung.
Di bawah pohon itu sangat sepi, tidak ada bekas telapak kaki orang berjalan. Dan, sebanyak burung yang berhenti, apalagi burung yang bermalam di pohon sama­sama memaruhkan makanan ke mulut bayi tersebut se­perti memaruhkan makanan pada anaknya sendiri. Itulah yang menjadi makanan bayi sehari-harinya.
Alkisah di daerah lain ada orang yang bernama Kyai Padhemmabu. Pada waktu malam hari, is melihat cahaya kemilauan dari arah timur. Saat itu pula is mendekatinya. Semakin didekati sinar tadi, semakin terang cahayanya. Akhirnya sirna seketika. Kyai Padhemmabu cepat-cepat mendekati bekas sinar itu, lalu melihat seorang bayi laki­laki, yang tadinya merupakan seberkas sinar. Diambilnya bayi tersebut dan digendong, lalu dibawa pulang ke rumahnya.
Sesampai di rumah bayi itu diberikan kepada anak perempuannya. Anaknya sangat senang ketika mene­rimanya, karma mendapat anak tanpa hamil sendiri. Oleh karma itu, maka kehadiran bayi tersebut dianggap seperti anaknya sendiri. Bayi itu disusui sendiri, dan diberi nama “Agus Wedi” (Banyak Wedi).
Dalam asuhan Kyai Padhemmabu, bayi Agus Wedi tumbuh dan berkembang menjadi besar. Kini is telah berusia lima tahun. Dan, tiap hari tiada lain pekerjaan­nya adalah ikut menggembala sapi ke tegal-tegal.
Lain halnya dengan kakaknya, Jokotole. Ia sudah berumur lebih dari enam tahun. Bila Empo Kelleng hendak berangkat ke tempat kerjanya, Jokotole ingin ikut, namun tidak diijinkan karma is sangat nakal, takut terkena apinya. Jokotole memang sangat disenangi oleh Empo Kelleng dan isterinya.
Keinginan Jokotole untuk ikut bapaknya, akhirnya terkabul juga. Ia terpaksa ikut ke tempat bapaknya bekerja. Ketika waktu zuhur tiba, Empo Kelleng dengan Para pe­kerjanya beristirahat untuk bersembahyang. Semua per­kakas besinya disimpan.
Ketika Empo Kelleng dan Para pekerjanya ber­sembahyang, Jokotole lalu menyulut api. Sambil mem­bakar besi, dibuatlah perkakas seperti arit, beliung, linggis, dan lain-lain. Bentuknya lebih bagus daripada buatan Empo Kelleng. Sedangkan yang dipergunakan sebagai perkakas pembuatan adalah lututnya. Lutut dipergunakan sebagai alas, dan tangannya sebagai palu, jari-jari sebagai jepit dan kikir. Ada yang mengatakan bahwa cara pembuatannya hanya dipijit dengan jari­jarinya.
Begitu Empo Kelleng dan para pekerjanya selesai bersembahyang, lalu mereka melihat banyak perkakas yang sudah selesai dibuat. Mereka merasa heran melihat perkakas sebanyak itu. Namun tidak menyangka sama sekali bahwa hal itu hasil pekerjaan Jokotole.
Selanjutnya pekerjaan itu dikerjakan oleh Jokotole sampai beberapa hari, namun tak satu pun orang yang tahu. (R.Werdisastra dalam BABAD MADURA)

dikutip dari : http://potrekonengsumenep.wordpress.com

puisi "MUAK"


terinspirasi oleh kisah nyata. puisi sindiran untuk yang tersindir !

MUAK 
kau
tak sadar diri
tak sadar ruang
waktu pun tak tau
kalian yang tersakiti
dalam melodi kematian
awal yang suram
fitrah sudah tak terdengar

hembusan nafas
berat !
tertahan dalam cekikan
hidup dalam bayang-bayang
mati pun tak tenang !

oleh : ucca fwp

Jumat, 20 April 2012

D'Last Scienju, Kau Bukan Hanya Sekedar Indah, Kau Takkan Terganti !





Di SMA N 1 Sampang tahun 2011-2012 ada kelas namanya XII IPA 7, kita biasa sebut D'last Scienju atau singkatnya XIInJu. gue salah satu anggota kelas yang terkenal rame dan susah diatur ini. wali kelas kita namanya RULIS DEMAYANTI. lebih dari sekedar wali kelas deh !


ini dia para anggota dan "kelebihannya"..*sesuai absen*
  1. Adhella Mutiara Arina >> suka nyubit kalo gregetan
  2. Fathonatun Nisak U.M >> chibi..chibi..chibi... (capedeh !)
  3. Rahmawati Maisaroh H >> salah satu anggota barisan depan *alkacamataminalkotel*
  4. Hikmah Maulidyah >> menjelang SNMPTN berubah panggilan dari "adek kecil" jadi "kakak" (congrat !!)
  5. Dwi Jayanti >> gak tahan sama yang berbau melow, sedih, serem, dan kawan-kawannya
  6. M. Noer Husein >> klebun sukanya pacaran di kelas (=.=!)
  7. Moh. Akhror >> siapa yang kehilangan cermin, pasti ada di dia (WaW !)
  8.  Wulan Suci Ramadhani >> secret person -(*.*)-
  9. Andreawan Arditama >> kamu apa ya? gak tau !
  10. Dimas Tegar Rahmatullah >> abang kita semuuaaaa \(^.^)/
  11. Faradila Ermawati >> lugu apa nyebelin ya ?
  12. Imroatus Solihah >> anak paling takut ngelanggar aturan ! (SEDIKITPUN)
  13. June Laily Izzati >> suka salting kalo di gojlokin
  14. Niqita Christin Diana Sera >> nada bicaranya itu loh ! kalo lagi ngasi pengumuman naik satu oktaf
  15. Nur Romlah >> tik..tok..tik..tok (Gue Bingung -.-)
  16. Nurul Malika >> bisa ubah-ubah ekspresi wajah (keseringan ekspresi lebay sih) *piisss!!*
  17. Wasilatun Nafiah >> diam-diam menghanyutkan (keseringan banjir sih rumahnya)
  18. Yuli Suci Qurrotul Aini >> terkadang berasa kaya anak autis *piisss (v)*
  19. Azifa Risalati >> Putri Presiden Smansa nih
  20. Dimas Abithosa Alfatih >> suka ngelakuin hal-hal aneh yang dianggap tabu (apa nih! -.-)
  21. Durroh Yatimah >> gaya cowok, tapi jijik-an (huuuu..!!!)
  22. Faiqoh Inayah Fatahillah >>ketawanya itu loh.. naudzubillah..
  23. Huswatun Hasanah >> diem mulu sih, bingung jadinya !
  24. Inayatul Firdausyiyah >> istri klebun sukanya pacaran di Kelas ! (sama tuh yang absen 6)
  25. Nafizah >> raddin ken disah ! (cantik tapi ndeso)
  26. Nunuk Dewi Firdayanti >> paling tua tapi sok jadi paling muda -.-
  27. Ratna Nur Handayani >> ketua genk ! yang punya Mabes Xiinju
  28. Rizky Fauziah >> Kepala suku neh !
  29. Robiatul Agustini >> terkadang ngelemis (bahasa indonesianya ngelemis apa??)
  30. Siti Fatima >> ehem.. juara OSN astronomi, agustus depan ke BRAZIL !
  31. Ucca Fajrin Wicitra Putri >> tau sendirilahhh.. *elus poni*
  32. Yuda Cahya Pratiwi  >> hey.. cewek ganteng 
yap.. seperti yang dilihat diantara 32 siswa cuma ada 5 anak yang punya jenis kelamin laki-laki (gak yakin juga sih ketulenannya -,-) ini dia salah duanya..

berawal dari sebbuah perbedaan menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi. komposisi lengkap pasti nikmat ! see u guys.. sukses untuk kita semua.
kau bukan hanya sekedar indah, kau tak akan tergantiii.... :')


Kamis, 19 April 2012

5 Manfaat Makanan Pedas !!!




Makanan pedas tak selalu diartikan sebagai makanan yang diolah dengan cabai. Rasa pedas juga bisa didapatkan dari merica, lada hitam, kunyit, dan berbagai bumbu dapur lain. Anda yang menyukai makanan pedas boleh merasa senang, karena rasa pedas ini mempunyai banyak manfaat kesehatan. Misalnya, seperti telah sering disebutkan sebelumnya, makanan pedas bisa menguruskan badan. Namun itu hanya salah satu contohnya saja. Coba lihat manfaat lain yang belum Anda ketahui.



1. Menurunkan berat badan
Menurunkan berat badan. Siapapun pasti setuju, makanan apapun yang diberi sambal pasti akan lebih menggugah selera. Bila Anda mau, makanan diet Anda pun bisa diberi cocolan sambal. Kalau hal ini bisa membuat Anda tertib menyantap makanan sehat dengan lebih berselera, kenapa tidak? Lagipula, rasa pedas itu bisa meningkatkan metabolisme Anda. Studi menunjukkan bahwa senyawa utama dalam cabai, yaitu kapsaisin, memiliki efek termogenik yang bisa menyebabkan tubuh membakar kalori saat mengunyah selama 20 menit.


2. Menyehatkan jantung
Menyehatkan jantung. Hasil studi juga menunjukkan, budaya mengonsumsi makanan pedas menyebabkan insiden serangan jantung dan stroke yang lebih rendah. Alasannya, cabai merah bisa mengurangi efek merusak dari kolesterol jahat, sedangkan kapsaisin bisa melawan peradangan. Keduanya merupakan faktor risiko untuk masalah jantung.

3. Mencegah Kanker

Mencegah kanker. Menurut American Association for Cancer Research, kapsaisin juga memiliki kemampuan membunuh beberapa sel kanker dan leukimia. Sedangkan kunyit, yang dijadikan bumbu kari dan mustar, bisa memperlambat penyebaran kanker dan pertumbuhan tumor. Bila ingin memberikan hasil maksimal, kombinasikan dengan lada hitam untuk menyerap kunyit 2.000 persen lebih banyak.

4. Menurunkan Tekanan Darah
Menurunkan tekanan darah. Vitamin A dan C mampu menguatkan dinding otot jantung, sementara panas dari lada meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh. Kombinasi hal ini bisa menghasilkan sistem kardiovaskuler yang lebih kuat.

5. Mengurangi Stres
Mengurangi stres. Makanan pedas meningkatkan produksi hormon yang memberikan rasa menyenangkan, seperti serotonin. Hasilnya, makanan ini membantu mengusir depresi dan stres.

5 Cara Agar Kentut Tidak Bau





Meski kentut merupakan reaksi alami tubuh, tapi kentut yang terlalu sering dan berbau tentunya membuat orang malu. Agar kentut bisa normal dan tak berbau busuk ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Apa saja? Menurut American College of Gastroenterology, rata-rata kentut 10 hingga 20 kali sehari masih dianggap normal. Dalam frekuensi normal, kentut merupakan hal yang sehat karena menandakan sistem pencernaan khususnya gerakan peristaltik usus hingga anus berjalan dengan normal.
Selain membuat ketidaknyamanan sosial, kentut yang berbau busuk bisa menyebabkan nyeri dan rasa tidak nyaman di perut. Perubahan pola makan dan gaya hidup dapat membantu mengurangi jumlah gas dalam tubuh.
Dilansir Livestrong, berikut beberapa mengatasi agar kentut tak berbau busuk:
1. Minum teh herbal
Minum teh herbal setelah makan dapat mencegah terbentuknya gas di usus. Breastcancer.org merekomendasikan teh chamomile atau peppermint, yang dapat membantu tubuh Anda mencerna makanan dengan benar sehingga mencegah kentut berbau. Teh hijau juga dapat membantu.
2. Batasi makanan yang memicu gas di perut
Terlalu banyak makan makanan yang tinggi serat seperti kacang-kacangan dan umbi-umbian dapat memicu gas di perut. Batasi sayuran seperti brokoli, kubis, kecambah dan kembang kol bila Anda sedang mengalami perut kembung. Alkohol dan minuman bersoda juga dapat membuat Anda lebih sering kentut dan berbau.
3. Perhatikan asupan produk susu
Perhatikan apakah gas dalam perut Anda meningkat saat mengonsumsi produk susu seperti susu, keju dan yogurt, karena bisa jadi Anda tidak toleran terhadap laktosa, yang bisa membuat Anda lebih sering kentut dengan bau yang busuk.
4. Rutin olahraga
Menurut MayoClinic.com teratur olahraga dapat membantu meringankan chronic intestinal gas (kentut yang berlebihan) yang menyebabkan kentut berbau busuk. Pilih latihan yang ringan seperti jalan kaki dan yoga, yang dapat membantu kerja sistem pencernaan yang sehat sehingga tidak menghasilkan gas yang berlebihan.
5. Ubah kebiasaan makan
Ubah kebiasaan makan Anda untuk membantu tubuh mencerna makanan dengan benar dan mengurangi udara yang masuk ke perut saat makan. Kunyahlah makanan dengan perlahan, mulut tertutup, tidak dengan gigitan besar dan tidak bicara saat makan. Jangan gunakan sedotan saat minum dan hindari permen karet untuk mencegah lebih banyak udara masuk ke perut.